Keindahan air terjun merupakan salah satu daya tarik yang banyak
diminati wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Pada umumnya air
terjun terbentuk karena terjadinya patahan kulit bumi sehingga aliran
air terpotong membentuk loncatan air sesuai prinsip aliran air dari
ketinggian ke tempat yang lebih rendah. TNGHS mempunyai banyak air
terjun, seperti :
Curug Cimantaja dan Curug Cipamulan, terletak di desa Cikiray, kecamatan Cikidang dan kabupaten Sukabumi
Curug Piit (Curug Cihanjawar), Curug Walet dan Curug Cikudapaeh,
terdapat di sekitar Perkebunan Teh Nirmala Curug Citangkolo, terletak di
desa Mekarjaya, kecamatan Kabandungan, kabupaten Sukabum Curug Ciberang
dan Curug Cileungsing, terletak di sekitar kampung Leuwijamang
Curug Ciarnisah, terletak di sekitar kampung Cibedug Taman Nasional Gunung Halimun-Salak
wisata/gunung.jpg

Di Gunung Salak terdapat beberapa curug diantaranya Curug Cangkuang
(Cidahu); Curug Pilung (Girijaya); Curug Cibadak (Cijeruk); Curug
Citiis (Ciapus); Curug Nangka (Taman Sari); Curug Ciputri (Tenjolaya);
Curug Cihurang, Cirug Cigamea, Curug Ngumpet dan Curug Seribu
(Pamijahan), Curug Cibereum (Jayanegara).
Di dalam hutannya yang masih perawan kita dapat menjumpai beberapa air
terjun yang sangat eksotik dan bahkan ada yang jauh berada di dalam
hutan. Diantara air terjun atau curug yang dapat dikunjungi antara lain,
Curug Macan, Cikudapaeh, Cihanjawar, Citangkolo dan Curug Piit. Semunya
itu bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Selama perjalanan menuju air
terjun kita akan menjumpai beberapa hewan langka dan tumbuhan yang
usianya bisa mencapai ratusan tahun.
Secara umum wisata petualangan di Taman Nasional Gunung Halimun bisa
dinikmati oleh seluruh keluarga dan usia, dari anak-anak sampai orang
tua. Semuanya bisa disesuaikan dengan lokasi-lokasi yang akan jadi
tujuan selama berada di dalam kawasan taman nasional sesuai dengan
tingkat usia serta kemampuan kita.
Kabandungan – Cikaniki - Citalahab
Pintu masuk ke kawasan taman nasional yang umum dan sering dikunjungi
yaitu melalui Kabandungan. Untuk sampai di wilayah Kabandungan kita
harus melalui wilayah Parung Kuda (jalan raya yang melewati Stasiun
Kereta Api Parung Kuda). Wilayah Kabandungan yang merupakan nama sebuah
kecamatan, terdapat kantor Balai Taman Nasional Gunung Halimun – Salak
(TNGH-S). Disini kita bisa melapor sekaligus mengurus administrasinya.
Selain itu disediakan pula wisma tamu untuk anda yang ingin bermalam.
Di balai taman nasional ini pula kita bisa mendapatkan informasi yang
sangat lengkap sebelum kita bertualang menjelajahi wilayah taman
nasional. Disini terdapat ruangan yang menyimpan berbagai obyek foto,
buku-buku, maket tiga dimensi bahkan ruang auditorium yang menggambarkan
secara ringkas dan jelas hal-hal yang berhubungan dengan taman
nasional. Dari kantor balai taman nasional perjalanan dapat kita
lanjutkan menuju Stasiun Penelitian (Research) Cikaniki yang berjarak 18
km. Jalan yang akan kita lalui merupakan jalan berbatu-batu. Aspal
terakhir hanya sampai desa Cipeuteuy, kira-kira 2 km dari kantor balai
taman nasional. Setelah itu baru kita bisa menggunakan ojeg motor atau
kendaraan sejenis L-300 yang banyak terdapat disana. Tetapi jika ingin
menggunakan kendaraan pribadi disarankan menggunakan mobil sejenis 4WD
atau minimal sejenis Kijang dan Panther.
Sebelum masuk ke gerbang kawasan taman nasional kita akan melewati
perkampungan penduduk, ladang dan sawah. Untuk sampai Stasiun
Penelitian Cikaniki dari gerbang kawasan taman nasional jarakanya ±6 km.
Sepanjang jalan dari gerbang menuju Cikaniki tidak akan membosankan
karena kita melintasi hutan hujan tropis yang asri dan hijau. Di
sepanjang jalur ini pula kita akan melintasi salah satu habitat Owa
Jawa. Dekat sebuah perbatasan yang memisahkan Kabupaten Sukabumi dan
Bogor terdapat papan petunjuk yang menginformasikan bahwa disitu
merupakan salah satu lintasan Macan Tutul.
Tidak lama kemudian baru kita akan sampai di Stasiun Penelitian
Cikaniki, berupa bangunan modern dari kayu yang didatangkan dari Pulau
Kalimantan dan bergaya arsitektur Jepang. Stasiun tersebut dibangun oleh
sebuah lembaga bantuan asing dari Jepang, JICA, sebagai tempat atau
pusat research para peneliti baik asing maupun lokal. Disini fasilitas
cukup lengkap karena ada tempat parkir, wisma tamu yang dilengkapi
dengan kamar-kamar, dapur dan ruang makan. Selain itu diruang tamu
terdapat beberapa contoh jenis hewan khas taman nasional yang sudah
diawetkan dan beberapa obyek foto serta buku-buku yang bisa menambah
informasi kita mengenai kawasan taman nasional. Dekat stasiun terdapat
sebuah sungai yang jernih dan suara airnya mengalir memecahkan
keheningan disekelilingnya. Terkadang di hutan yang mengelilingi Stasiun
Penelitian Cikaniki dijumpai Monyet Surili bergelantungan.
Sekitar 200 meter utara stasiun Cikaniki, terdapat menara penelitian
atau biasa dipakai untuk pengamatan burung. Menara ini biasa disebut
Canopy Trail yaitu berupa jembatan gantung yang saling terhubung dan
bertumpu pada empat pohon besar. Panjang jembatan ini tidak kurang dari
100 meter dengan ketinggian 25-30 meter. Dari atas jembatan ini kita
dapat melihat pemandangan yang indah yaitu dengan melihat tajuk-tajuk
pohon besar dengan anak sungai Ciberang mengalir dibawahnya. Pada malam
hari, dibawah
Canopi Trail, tepatnya disekitar kaki tangga naik kita
bisa melihat jamur yang berflurocence atau menyala dalam kegelapan hutan
disela-sela semak dan tanaman yang tumbuh disana. Salah seorang kawan
ketika melihat kilauan jamur-jamur tersebut mengungkapkan kekagumannya,
”bagaikan light in dark ya...keren banget...”,. Tidak salah memang
kekagumannya, karena jamur yang di siang hari terlihat berbentuk bulat
putih kecil-kecil akan terluhat menyala tersebar di sela-sela hijaunya
dedaunan. Lima puluh meter dari stasiun, terdapat rumah pohon yang baru
dibangun akhir tahun 2006 dan menjadi fasilitas baru kawasan taman
nasional ini.
Begitu masuk kawasan taman nasional, mungkin anda akan langsung jatuh
cinta dan merasa tidak puas untuk hanya sekali berkunjung. Sebagaimana
halnya penulis, walaupun sudah berkali-kali mengunjunginya tetap selalu
ada keinginan untuk kembali. Karena setiap kali kita datang selalu ada
misteri dan pesona alam yang baru. Terlebih ketika melihat sang raja
udara, Elang Jawa berputar-putar di udara di atas perkebunan teh Nirmala
Agung, Citalahab (±2 km dari Stasiun Penelitian Cikaniki) merupakan
pengalaman yang sulit untuk dilupakan.
Untuk sampai di kampung Citalahab masih dengan jalan yang berbatu kita
akan melewati jalur yang menuju air terjun, Curug Macan (±300 meter dari
stasiun) yang pernah menjadi habitatnya Macan Tutul. Letaknya yang
tidak terlalu jauh dari stasiun Cikaniki, Curug Macan sangat sayang
untuk dilewatkan. Di air terjun tersebut kita bisa mandi dan
beristirahat sejenak menikmati kesegaran airnya. Kemudian kita akan
melewati perkebunan teh Nirmala Agung. Hamparan perkebunan teh ini
begitu luas di areal yang berbukit-bukit. Ketika kabut naik pemandangan
disekitar perkebunan teh sungguh luar biasa karena kita akan melihat
kabut atau halimun menggelayuti tanaman teh dan hutan tropis hijau dan
lebat yang menjadi latar belakangnya. Sewaktu kabut muncul diantara
lebatnya hutan tersebut, pemandangan tampak semakin mempesona dan
menakjubkan
Selain jalur tersebut di atas ada jalur lain yang lebih menarik lagi
untuk menuju kampung Citalahab, yaitu melalui jalan setapak yang disebut
Loop Trail sepanjang ±3,8 km, melalui Stasiun Penelitian Cikaniki dan
Canopy Trail. Sepanjang jalur loop trail ini dengan melintasi hutan
tropis yang sudah dilengkapi dengan papan petunjuk dan beberapa bangunan
sebagai shelter atau pos untuk beristirahat, kita akan menikmati
kekayaan hutan yang berada dalam kawasan. Disepanjang jalur kita akan
melihat beberapa jenis Anggrek hutan,
Kupu-kupu, tanaman Suplir, Kantong
Semar, pohon-pohon yang usianya bisa mencapai ratusan tahun, serta
berbagai aneka tumbuhan dan fauna hutan lainnya. Jika beruntung kita
bisa juga menjumpai Monyet Ssurili dan Owa Jawa. Kita juga akan
melintasi sungai yang jernih dan sejuk. Ujung dari loop trail ini sebuah
bumi perkemahan yang berada persis di Kampung Citalahab dengan
pemandangan perkebunan teh yang memukau serta sebuah sungai jernih yang
mengalir di bawahnya.
Jika ingin merasakan suasana jungle trekking yang lebih menantang kita
bisa masuk ke dalam hutan lebih jauh lagi menuju air terjun yang tidak
terlalu besar namun indah, karena letaknya benar-benar di dalam hutan
yang perawan, Curug Cikudapaeh. Air terjun ini memiliki kolam yang bisa
digunakan untuk mandi diantara dinding-dinding batu yang bergema. Masih
melalui jalan setapak, loop trail, di pertigaan yang mengarah ke Kampung
Citalahab Bedeng (arah ke kanan), kita harus memilih jalur lain ke
sebelah kiri atau lurus untuk sampai di curug Cikudapaeh. Jalur ini
jarang sekali ditempuh orang sehingga terkadang kita harus menerabas,
karenanya tidak dianjurkan untuk berjalan sendiri tanpa pemandu dari
taman nasional.
Dianjurkan menggunakan sepatu jika ingin trekking
melalui jalur ini karena beberapa lokasi berlumpur. Dengan berjalan kaki
normal dalam waktu ±4 jam kita sudah sampai di Curug Cikudapaeh. Untuk
keluar kita bisa kembali melalui jalan semula atau menyeberangi Sungai
Cikudapaeh keluar melalui kampung Citalahab Bedeng dan kembali lagi ke
kampung Citalahab Bawah melalui perkebunan teh.
Di kampung Citalahab Bawah terdapat guest house yang dikelola masyarakat
setempat. Guest house yang berarsitektur tradisonal sunda tersebut
berada persis bersebelahan dengan Bumi Perkemahan Citalahab dan dibatasi
sebuah sungai dengan perkampungan penduduk. Walaupun bergaya
tradisional, guest house ini cukup lengkap termasuk dapur, ruang makan,
MCK yang cukup modern, dan sebuah balai kecil seperti balai pertemuan
petani yang bisa menjadi tempat berkumpul.
Tetapi jika ingin bersosialisasi dengan penduduk Kampung Citalahab
Bedeng, kita bisa menggunakan home stay yang juga dikelola oleh penduduk
setempat. Home stay tersebar di beberapa rumah penduduk lengkap dengan
gaya arsitektur sunda dan biasanya wisatawan asing senang menggunakan
home stay ini.
Jadi semua kembali kepada anda, ingin menggunakan tempat yang lebih
modern seperti Stasiun Penelitian Cikaniki. Atau ingin yang lebih
tradisional, bersentuhan langsung dengan masyarakat dan berada diantara
perkebuhan teh yang menghijau, seperti guest house dan home stay di
Citalahab.
Tidak jauh dari Kampung Citalahab masih ada obyek menarik lainnya, yaitu
pabrik teh Nirmala Agung. Jika sedang beroperasi, kita dapat melihat
langsung proses pembuatan teh di pabrik yang berada sekitar 6 km dari
Kampung Ctalahab. Teh hasil pengolahan pabrik ini terasa lebih nikmat
dan beraroma khas. Dari pabrik pembuatan teh, kita bisa menuju Curug
Piit yang merupakan air terjun yang tinggi, besar dan indah. Curug Piit
jaraknya jaraknya tidak terlalu jauh dari pabrik pembuatan teh,
kira-kira 2 km lagi dengan melewati perkampungan dimana terdapat
persawahan dan lumbung padi tradisional.
Sumber :
http://aini.rumahatiku.com/2009/01/taman-nasional-gunung-halimun-salak-day-2/
https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-barat/curug-piit---sukabumi